Dalam DSM-5 American Psychiatric Association-Diagnostic sudah mengganti sebutan Retardasi Mental (Mental Retardation) menjadi Keterbatasan Intelektual (Intellectual Disability). Di Indonesia sendiri, istilah tersebut dikenal dengan Tunagrahita.
Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation) yang berarti keterbelakangan mental. Tuna berarti merugi grahita berarti pikiran. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/ kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri. Semuanya itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya. Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata, ketidakmampuan dalam perilaku adaptif, dan terjadi selama perkembangan sampai usia 18 tahun.
American Asociation on Mental Deficiency (AAMD) mendefinisikan tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata, yaitu IQ 84 kebawah berdasarkan tes. Sedangkan pengertian tunagrahita menurut Japan League forMentally Retarded yang meliputi fungsi intelektual lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku. Para ahli Indonesia menggunakan klasifikasi:
1. Tunagrahita ringan memiliki IQ 50-70
2. Tunagrahita sedang memliki IQ 55-40
3. Tunagrahita berat dan sangat berat memiliki IQ <30
Penglasifikasian Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools , sebagai berikut:
1. Educabl
Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar.
2. Trainable
Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik.
3. Custodial
Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.
Secara klinis, Tunagrahita dapat digolongkan atas dasar tipe atau ciri-ciri jasmaniah secara berikut:
· Sindroma Down/ mongoloid; dengan ciri-ciri wajah khas mongol, mata sipit dan miring, lidah dan bibir tebal dan suka menjulur, jari kaki melebar, kaki dan tangan pendek, kulit kering, tebal, kasar dan keriput, dan susunan geligi kurang baik.
· Hydrocephalus (kepala besar berisi cairan); dengan ciri kepala besar, raut muka kecil, tengkorak sering menjadi besar.
· Mikrocephalus dan Makrocephalus; dengan ciri-ciri ukuran kepala tidak proporsional (terlalu kecil atau terlalu besar).
Pendidikan Anak Tunagrahita
Pendidikan bagi anak tunagrahita menggunakan perspektif pengayaan. Perspektif pengayaan adalah sebuah pendekatan berdasarkan kemampuan dan kekuatan. Apa yang dapat dilakukan oleh anak serta apa yang dapat dilakukan oleh sekolah menjadi penting dalam menciptakan lingkungan belajar dengan pendekatan ini.
Pelatihan Untuk Anak Tunagrahita Pendekatan pelatihan yang dapat diberikan kepada anak tunagrahita adalah :
OccuppasionalTherapy ( Terapi Gerak )
Terapi ini diberikan kepada anak tunagrahita untuk melatih gerak fungsional anggota tubuh ( gerak kasar dan halus ).
· Play Therapy ( Terapi Bermain )
Terapi yang diberikan anak tungrahita dengan cara bermain, misalnya: memberikan pelajaran terapi hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli.
· Activity Daily Living ( ADL ) atau Kemampuan Merawat Diri
Untuk memandirikan anak tungrahita, mereka harus diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL) agar mereka dapat merawat diri sendriri tanpa bantuan orang lain dan tidak tergantung kepada orang lain.
· Life Skill ( Keterampilan Hidup )
Bagi anak tunagrahita yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, untuk bekal hidup, mereka diberikan pendidikan keterampilan. Dengan keterampilan yang dimilikinya mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha.
· Vocational Therapy ( Terapi Bekerja )
Selain diberikan latihan keterampilan, anak tunagrahita juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang dimilkinya, anak tunagrahita diharapkan dapat bekerja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar