Senin, 28 Maret 2022

KLASIFIKASI TUNAGRAHITA RINGAN

 



Tuna grahita dikenal dengan berbagai nama atau istilah lain, seperti lemah pikiran, terbelakang mental, dan juga cacat grahita. Dalam bahasa Inggris istilah tuna grahita dikenal dengan sebutan Mentally Handicapped, atau Mentally Retarded. Anak yang disebut tuna grahita adalah anak yang memiliki kelemahan dalam aspek berpikir dan bernalar sehingga kemampuan belajar dan bersosialisasinya berada di bawah rata – rata. Anak tuna grahita mengalami gangguan dalam perkembangan daya pikirnya serta seluruh aspek kepribadiannya, juga keterbatasan dari segi fisik, intelektual, sosial dan emosi ataupun gabungan dari semua hal tersebut sehingga mempengaruhi kemampuan untuk hidup dengan kekuatannya di tengah masyarakat, sesederhana apapun hal tersebut.

Klasifikasi TunaGrahita 

Pengelompokan anak yang termasuk tuna grahita diperlukan bukan untuk membedakan anak dari teman sebayanya yang tidak mengalami keterbatasan, melainkan untuk kepentingan pendidikannya. Dengan mengetahui klasifikasi dari anak yang mengalami keterbatasan tersebut, akan mudah untuk menentukan pendidikan yang dibutuhkannya.

TunaGrahita Ringan 

Kondisi fisik anak tuna grahita ringan pada umumnya tidak berbeda dengan anak normal yang lain, dan mempunyai tingkat IQ yang berkisar antara 50-70. Meskipun mengalami hambatan pada kecerdasan dan adaptasi sosial namun masih mempunyai kemampuan di bidang akademik penyesuaian sosial dan kemampuan untuk bekerja. Masih bisa belajar membaca, menulis dan berhitung, dan bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas empat sekolah dasar umum. Seringkali anak tuna grahita ringan tidak dapat diidentifikasi hingga memasuki usia sekolah, ketika anak mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Sekitar 75% dari anak tuna grahita termasuk kepada kelompok tuna grahita ringan.


Senin, 21 Maret 2022

SEJARAH TUNAGRAHITA

 

        Dalam DSM-5 American Psychiatric Association-Diagnostic sudah mengganti sebutan Retardasi Mental (Mental Retardation) menjadi Keterbatasan Intelektual (Intellectual Disability). Di Indonesia sendiri, istilah tersebut dikenal dengan Tunagrahita. 

        Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation) yang berarti keterbelakangan mental. Tuna berarti merugi grahita berarti pikiran. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/ kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri. Semuanya itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya. Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata, ketidakmampuan dalam perilaku adaptif, dan terjadi selama perkembangan sampai usia 18 tahun.

American Asociation on Mental Deficiency (AAMD) mendefinisikan tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata, yaitu IQ 84 kebawah berdasarkan tes. Sedangkan pengertian tunagrahita menurut Japan League forMentally Retarded yang meliputi fungsi intelektual lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku. Para ahli Indonesia menggunakan klasifikasi:

1. Tunagrahita ringan memiliki IQ 50-70

2. Tunagrahita sedang memliki IQ 55-40

3. Tunagrahita berat dan sangat berat memiliki IQ <30                          

 

Penglasifikasian Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools , sebagai berikut:

1.      Educabl

Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar.

2.      Trainable

Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik.

3.      Custodial

Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.

Secara klinis, Tunagrahita dapat digolongkan atas dasar tipe atau ciri-ciri jasmaniah secara berikut:

·         Sindroma Down/ mongoloid; dengan ciri-ciri wajah khas mongol, mata sipit dan miring, lidah dan bibir tebal dan suka menjulur, jari kaki melebar, kaki dan tangan pendek, kulit kering, tebal, kasar dan keriput, dan susunan geligi kurang baik.

·         Hydrocephalus (kepala besar berisi cairan); dengan ciri kepala besar, raut muka kecil, tengkorak sering menjadi besar.

·         Mikrocephalus dan Makrocephalus; dengan ciri-ciri ukuran kepala tidak proporsional (terlalu kecil atau terlalu besar).

Pendidikan Anak Tunagrahita

Pendidikan bagi anak tunagrahita menggunakan perspektif pengayaan. Perspektif pengayaan adalah sebuah pendekatan berdasarkan kemampuan dan kekuatan. Apa yang dapat dilakukan oleh anak serta apa yang dapat dilakukan oleh sekolah menjadi penting dalam menciptakan lingkungan belajar dengan pendekatan ini.

Pelatihan Untuk Anak Tunagrahita Pendekatan pelatihan yang dapat diberikan kepada anak tunagrahita adalah : 

OccuppasionalTherapy ( Terapi Gerak ) 

Terapi ini diberikan kepada anak tunagrahita untuk melatih gerak fungsional anggota tubuh ( gerak kasar dan halus ).

·         Play Therapy ( Terapi Bermain )

Terapi yang diberikan anak tungrahita dengan cara bermain, misalnya: memberikan pelajaran terapi hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli.

·         Activity Daily Living ( ADL ) atau Kemampuan Merawat Diri

Untuk memandirikan anak tungrahita, mereka harus diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL) agar mereka dapat merawat diri sendriri tanpa bantuan orang lain dan tidak tergantung kepada orang lain.

·         Life Skill ( Keterampilan Hidup )

Bagi anak tunagrahita yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, untuk bekal hidup, mereka diberikan pendidikan keterampilan. Dengan keterampilan yang dimilikinya mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha.

·         Vocational Therapy ( Terapi Bekerja )

Selain diberikan latihan keterampilan, anak tunagrahita juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang dimilkinya, anak tunagrahita diharapkan dapat bekerja.

PRINSIP PEMBELAJARAN ANAK TUNA GRAHITA RINGAN

       Keterlambatan dalam perkembangan kecerdasannya, anak tunagrahita akan mengalami berbagai hambatan dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebu...