Senin, 18 April 2022

PRINSIP PEMBELAJARAN ANAK TUNA GRAHITA RINGAN



     Keterlambatan dalam perkembangan kecerdasannya, anak tunagrahita akan mengalami berbagai hambatan dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan, bahkan diantara mereka ada yang mencapai sebagaian atau kurang, tergantung pada berat ringannya hambatan yang dimiliki anak serta perhatian yang diberikan oleh lingkungannya. Kondisi ini tentu saja menjadikan persoalan tersendiri dalam pemberian layanan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anank tunagrahita. Namun demikian, banyak diantara guru-guru atau sekolah yang belum menyadari dan belum memberikan pelayanan pendidikan khusus sesuai dengan kebutuhan siswa tubagrahita.

 

Prinsip khusus Layanan yang Sesuai dengan Anak Tunagrahita yaitu :

1.      Prinsip Skala Perkembangan Mental

Prinsip ini menekankan pada pemahaman guru mengenai usia kecerdasan anak tunagrahita. Melalui prinsip ini dapat diketahui perbedaan antar dan intra individu.

2.      Prinsip Kecekatan Motorik

Melalui prinsip ini anak tunagrahita dapat mempelajari sesuatu dengan melakukannya. Disamping itu, dapat melatih motorik anak terutama untuk gerakan yang kurang mereka kuasai.

3.      Prinsip Keperagaaan

Prinsip ini digunakan dalam mengajar anak tunagrahita mengingat keterbatasan anak tunagrahita dalam berpikir abstrak. Oleh karena itu sangat penting, dalam mengajar anak tuangrahita dapt menggunakan alat peraga. Dengan alat peraga anak tunagrahita tidak verbalisme dan memiliki tanggapan mengenai apa yang dipelajarinya.

4.      Prinsip Pengulangan

Berhubung anak tunagrahita cepat lupa mengenai apa yang dipelajarinya maka dalam mengajar mereka membutuhkan pengulanganpengulangan disertai contoh yang bervariasi. Oleh karena itu, dalam mengajar anak tunagrahita janglah cepat-cepat maju atau pindah ke bahan berikutnya sebelum guru yakin betul bahwa anak telah memahami betul bahan yang dipelajarinya.

5.      Prinsip Korelasi

Maksud prinsip ini adalah bahan pelajaran dalam bidang tertentu hendaknya berhubungan dengan bidang lainnya atau berkaitan langsung dengan kegiatan kehidupan sehari-hari anak tunagrahita.

6.      Prinsip Maju Berkelanjutan

Maksud prinsip ini adalah pelajaran diulangi dahulu dan apabila anak menunjukkan kemajuan, segera diberi bahan berikutnya.

7.      Prinsip Individualisasi

Prinsip ini menekankan perhatian pada perbedaan individual anak tunagrahita. Anak tunagrahita belajar sesuai dengan iramanya sendiri. Namun, mereka harus berinteraksi dengan teman atau dengan lingkungannya. Jadi, mereka tetap belajar bersama dalam satu ruangan dengan kedalaman dan keluasan materi yang berbeda.




 

Senin, 11 April 2022

CARA GURU MENGATASI ABK TUNA GRAHITA RINGAN

 

Peran guru bagi anak tunagrahita sangat lah penting karena guru merupakan sarana penyalur kemampuan anak-anak tunagrahita ini. Peran guru sangat penting dalam prestasi-prestasi yang diraih anak tunagrahita tersebut karena gurulah yang sangat berperan mengikuti anak-anak didiknya untuk mengikuti perlombaan dari mulai proses tes anak-anak yang bisa mengikuti perlombaan, mengikuti serangkaian latihan serta membimbing langsung saat proses perlombaan berlangsung hingga akhir perlombaan. Sebagaimana yang dipaparkan oleh undang-undang ini menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi pada pendidikan usia dini jalur pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

 

Peran Guru dalam mendidik anak Tunagrahita di sekolah. Adapun peran guru dalam mendidik anak tunagrahita ini sehingga memperoleh prestasi yaitu :

  1. Melatih, kebiasaan yang dilakukan anak-anak tunagrahita saat akan mengikuti perlombaan yaitu mempersiapkan diri dengan latihan,
  2. Membimbing, selaku guru pembimbing, selalu menemani saat anak-anak nya latihan sampai akan bertanding. Sehingga dengan ada nya bimbingan yang di berikan kepada anak-anak tunagrahita tersebut tidak membuat kaku atau pun takut di hadapan banyak orang.
  3. Mengajar, memberikan pengajaran yang cepat dan mudah di mengerti oleh anak-anak tunagrahita ini karena sifat cepat bosan yang dimiliki anak tunagrahita ini membuat para tenaga pengajar harus lebih kreatif saat menjelaskan suatu pelajaran.
  4. Memotivasi, guru memberikan motivasi kepada anak agar anak lebih semangat dalam meningkatkan prestasi dan belajar.


Senin, 04 April 2022

CARA PENANGGANAN ANAK TUNA GRAHITA RINGAN

 


Tunagrahita atau disebut juga sebagai disabilitas intelektual, merupakan kondisi disabilitas yang ditandai dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Kondisi ini dapat terjadi pada siapapun, termasuk anak-anak. Kondisi ini ditandai dengan keterbatasan dalam fungsi intelektual, pembelajaran, keterampilan, bahkan kecerdasan. Anak tunagrahita juga memiliki IQ yang berada di bawah rata-rata. Ciri lainnya kondisi ini ialah cara belajar, sulit berkomunikasi, sulit mengatur emosi, dan kemampuan berkembangnya lebih lambat daripada anak-anak lain. Ada beberapa hal yang diduga sebagai penyebab tunagrahita ini.

Umumnya kondisi ini terjadi akibat cidera, penyakit, atau masalah lainnya di otak anak. Meskipun begitu, ada juga beberapa kasus yang tidak diketahui apa penyebabnya. Perlu kamu ketahui, disabilitas intelektual ini bukan merupakan suatu penyakit dan tidak dapat disembuhkan dengan obat apapun.

 Cara penangganan anak tuna grahita ringan 

1.  Tetapkan rutinitas secara konsisten

    Maksudnya membuat jadwal aktivitas sederhana seperti berpakaian, mandi, makan, ini akan membantu anak belajar melakukannya dengan baik dan melatih kemandirian anak. 

2.  Memasukkan anak ke sekolah khusus ( SLB )

    Anak dengan kondisi tunagrahita membutuhkan dukungan pendidikan dari sekolah khusus. Karena anak tuna grahita memiliki kemampuan intelektual yang cukup rendah sehingga membutuhkan layanan khusus untuk membantu mereka belajar dan berkembang, khususnya agar mereka dapat hidup dengan mandiri.

3.  Mendidik anak secara perlahan

    Mengingat bahwa mereka memiliki keterbatasan dalam mengingat, kita sebagai pendidik perlu mendidiknya dengan sabar dan perlahan. Di samping hal-hal yang mereka kelak peroleh di sekolah, ada hal penting yang perlu orang tua ajarkan sendiri.

4.  Berikan anak aturan

    Sebagai orang tua perlu membuat aturan tetap guna membantu anak mengatur aktivitasnya. Ini menjadi sangat penting bagi anak tunagrahita sebab dapat membantu mereka hidup dengan lebih baik.

 

Senin, 28 Maret 2022

KLASIFIKASI TUNAGRAHITA RINGAN

 



Tuna grahita dikenal dengan berbagai nama atau istilah lain, seperti lemah pikiran, terbelakang mental, dan juga cacat grahita. Dalam bahasa Inggris istilah tuna grahita dikenal dengan sebutan Mentally Handicapped, atau Mentally Retarded. Anak yang disebut tuna grahita adalah anak yang memiliki kelemahan dalam aspek berpikir dan bernalar sehingga kemampuan belajar dan bersosialisasinya berada di bawah rata – rata. Anak tuna grahita mengalami gangguan dalam perkembangan daya pikirnya serta seluruh aspek kepribadiannya, juga keterbatasan dari segi fisik, intelektual, sosial dan emosi ataupun gabungan dari semua hal tersebut sehingga mempengaruhi kemampuan untuk hidup dengan kekuatannya di tengah masyarakat, sesederhana apapun hal tersebut.

Klasifikasi TunaGrahita 

Pengelompokan anak yang termasuk tuna grahita diperlukan bukan untuk membedakan anak dari teman sebayanya yang tidak mengalami keterbatasan, melainkan untuk kepentingan pendidikannya. Dengan mengetahui klasifikasi dari anak yang mengalami keterbatasan tersebut, akan mudah untuk menentukan pendidikan yang dibutuhkannya.

TunaGrahita Ringan 

Kondisi fisik anak tuna grahita ringan pada umumnya tidak berbeda dengan anak normal yang lain, dan mempunyai tingkat IQ yang berkisar antara 50-70. Meskipun mengalami hambatan pada kecerdasan dan adaptasi sosial namun masih mempunyai kemampuan di bidang akademik penyesuaian sosial dan kemampuan untuk bekerja. Masih bisa belajar membaca, menulis dan berhitung, dan bisa menyelesaikan pendidikan setingkat kelas empat sekolah dasar umum. Seringkali anak tuna grahita ringan tidak dapat diidentifikasi hingga memasuki usia sekolah, ketika anak mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Sekitar 75% dari anak tuna grahita termasuk kepada kelompok tuna grahita ringan.


Senin, 21 Maret 2022

SEJARAH TUNAGRAHITA

 

        Dalam DSM-5 American Psychiatric Association-Diagnostic sudah mengganti sebutan Retardasi Mental (Mental Retardation) menjadi Keterbatasan Intelektual (Intellectual Disability). Di Indonesia sendiri, istilah tersebut dikenal dengan Tunagrahita. 

        Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation) yang berarti keterbelakangan mental. Tuna berarti merugi grahita berarti pikiran. Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya) disertai ketidakmampuan/ kekurangmampuan untuk belajar dan untuk menyesuaikan diri. Semuanya itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya. Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata, ketidakmampuan dalam perilaku adaptif, dan terjadi selama perkembangan sampai usia 18 tahun.

American Asociation on Mental Deficiency (AAMD) mendefinisikan tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata, yaitu IQ 84 kebawah berdasarkan tes. Sedangkan pengertian tunagrahita menurut Japan League forMentally Retarded yang meliputi fungsi intelektual lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku. Para ahli Indonesia menggunakan klasifikasi:

1. Tunagrahita ringan memiliki IQ 50-70

2. Tunagrahita sedang memliki IQ 55-40

3. Tunagrahita berat dan sangat berat memiliki IQ <30                          

 

Penglasifikasian Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools , sebagai berikut:

1.      Educabl

Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 sekolah dasar.

2.      Trainable

Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuannya untuk mendapat pendidikan secara akademik.

3.      Custodial

Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus.

Secara klinis, Tunagrahita dapat digolongkan atas dasar tipe atau ciri-ciri jasmaniah secara berikut:

·         Sindroma Down/ mongoloid; dengan ciri-ciri wajah khas mongol, mata sipit dan miring, lidah dan bibir tebal dan suka menjulur, jari kaki melebar, kaki dan tangan pendek, kulit kering, tebal, kasar dan keriput, dan susunan geligi kurang baik.

·         Hydrocephalus (kepala besar berisi cairan); dengan ciri kepala besar, raut muka kecil, tengkorak sering menjadi besar.

·         Mikrocephalus dan Makrocephalus; dengan ciri-ciri ukuran kepala tidak proporsional (terlalu kecil atau terlalu besar).

Pendidikan Anak Tunagrahita

Pendidikan bagi anak tunagrahita menggunakan perspektif pengayaan. Perspektif pengayaan adalah sebuah pendekatan berdasarkan kemampuan dan kekuatan. Apa yang dapat dilakukan oleh anak serta apa yang dapat dilakukan oleh sekolah menjadi penting dalam menciptakan lingkungan belajar dengan pendekatan ini.

Pelatihan Untuk Anak Tunagrahita Pendekatan pelatihan yang dapat diberikan kepada anak tunagrahita adalah : 

OccuppasionalTherapy ( Terapi Gerak ) 

Terapi ini diberikan kepada anak tunagrahita untuk melatih gerak fungsional anggota tubuh ( gerak kasar dan halus ).

·         Play Therapy ( Terapi Bermain )

Terapi yang diberikan anak tungrahita dengan cara bermain, misalnya: memberikan pelajaran terapi hitungan, anak diajarkan dengan cara sosiodrama, bermain jual-beli.

·         Activity Daily Living ( ADL ) atau Kemampuan Merawat Diri

Untuk memandirikan anak tungrahita, mereka harus diberikan pengetahuan dan keterampilan tentang kegiatan kehidupan sehari-hari (ADL) agar mereka dapat merawat diri sendriri tanpa bantuan orang lain dan tidak tergantung kepada orang lain.

·         Life Skill ( Keterampilan Hidup )

Bagi anak tunagrahita yang memiliki IQ dibawah rata-rata, mereka juga diharapkan dapat hidup mandiri. Oleh karena itu, untuk bekal hidup, mereka diberikan pendidikan keterampilan. Dengan keterampilan yang dimilikinya mereka diharapkan dapat hidup di lingkungan keluarga dan masyarakat serta dapat bersaing di dunia industri dan usaha.

·         Vocational Therapy ( Terapi Bekerja )

Selain diberikan latihan keterampilan, anak tunagrahita juga diberikan latihan kerja. Dengan bekal keterampilan yang dimilkinya, anak tunagrahita diharapkan dapat bekerja.

Senin, 21 Februari 2022

Tuna Grahita



Tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi yang signifikan berada dibawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi prilaku yang muncul dalam masa perkembangan.


Istilah lain tunagrahita

1. Lemah fikiran ( feeble-minded)

2. Terbelakang mental (Mentally  Retarded)

3. Mampu Didik (Educable)

4. Mampu Latih (Trainable)

5. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat

6. Mental Subnormal

7. Defisit Mental. 

8. Defisit Kognitif

9. Gangguan Intelektual


Klasifikasi IQ

Tingkat kecerdasan secara umum biasanya diukur melalui tes Inteligensi yang hasilnya disebut dengan IQ (intelligence quotient).

Klasifikasi IQ

Tuna grahita ringan 70 – 55

Tuna grahita sedang 55 – 40

Tuna grahita berat 40 – 25

Tuna grahita berat sekali < 25

PRINSIP PEMBELAJARAN ANAK TUNA GRAHITA RINGAN

       Keterlambatan dalam perkembangan kecerdasannya, anak tunagrahita akan mengalami berbagai hambatan dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebu...